Out Side The Limit

beyond the words and life

When you’re down, look up !!! There someone better, to carry you and tell, that there is the reason

—Petra G Michael

You waking, you breaking
Everybody changing, I don’t know why

— Keane

Tak Pernah

Saat tak pernah memulai ada rasa untuk memiliki kesombongan dunia.

Pernahkah berhenti mengutuk pada putaran waktu saat harapan tak sesuai kenyataan.

Pernahkah melangkah disaat tak berfikir jalan yang harus dilalui.

Pernahkah berkata saat tak ada bahasa mampu menafsirkan.

Pernahkah menilai saat hanya ada logika yang mampu bekerja normal.

Pernahkah sejenak berhenti saat embun hanya sebatas dahaga bagi padang rumput.

Pernahkah menatap disaat hanya kunang-kunang yang mampu menjadi penerang.

Pernahkah melawan pada persamaan saat diri ini ternyata berbeda.

Pernahkah bertumpu saat sendi tak lagi berfungsi dan jaringan saraf mati membeku.

Pernahkah bertindak ketika tubuh ini hanya rangka tak berbalut.

Pernahkah menunduk nyatanya tujuan umat hanya diatas.

Pernahkah memiliki saat matahari harus mengucap perpisahan yang indah pada senja.

Pernahah tersadar saat fatamorgana bukan bagian dari mimpi.

Pernahkah melalui tanpa mengetahui ribuan rintangan menghadang.

Pernahkah mendengar nyatanya burung pun tak pernah berhenti berkicau.

Pernahkah tersenyum ketika hanya memiliki bibir untuk menghibur diri sendiri.

Pernahkah menerima tanpa ada pemberian yang disesali.

Pernahkah menutup mulut dan hanya menulis layaknya bayi yang tek memiliki gigi.

Pernahkah menyentuh saat tekstur bukan hal yang menarik untuk diperhatikan.

Pernahkah melihat saat kebutaan menutup segala kewajaran.

Landscape tenggelamnya sang surya

Dalam sebuah pemandangan indah fenomena tenggelamnya matahari di penghujung sore kau akan melihat bagaimana keindahan menyatu dalam sebuah kehilangan.

Tanpa kalian sadari kau menikmati bagaimana proses kehilangan itu terjadi menjadi sebuah karya ciptaan tuhan.

Dalam sebuah landscape yang tiada tara pernahkah kau melihat sebuah garis yang membatasi letak dimana matahari akan berangsur-angsur hilang secara keseluruhan.

Garis itulah yang menjadi penentu dan batas akhir dalam perjalanan sang surya mengarungi pagi menuju sore hari.

Garis yang tanpa kau sadari adalah pennyatu sekaligus pembeda dalam sebuah landscape tersebut.

Begitulah keadaan dirimu saat ini. Kau bagai sebuah landscape proses bagaimana kehilangan dan keindahan menjadi satu.

Pemandangan yang selalu kurindukan untuk selalu kunikmati namun membuatku takut ketika harus mengakhiri moment tersebut.

Akankah aku mampu untuk mengakhiri kutukan tersebut ? Agar kau tak menjadi sebuah landscape sore hari.

Tapi lebih menjadi seperti landscape langit yang selalu menemani bumi pada siang dan malam hari.

Siang kau begitu indah dengan awan biru yang mendinginkan hati dibawah terpaan sang surya serta pada malam hari kau akan menjagaku dengan cahaya bintang yang berkelip menghangatkan ku dari dinginnya udara.

Landscape langit yang akan tetap mampu kunikmati keindahannya tanpa harus merasa kehilangan.

Tidak ada ‘Bujang’ Kaya

Dalm hal ini banyak yang menjadi pertanyaan dalam otak saya ketika seorang teman mengatakn hal ini kepada saya.

Atas dasar apa kawan ini mengatakan hal ini demikian ? Setelah saya cerna selama satu hari satu malam *lebay* hahaha

Ternyata kalimat ini dia ucapkan karena kekayaan itu diukur dalam hal yang lain.

Kaya dalam persepsi manusia awam adalah memiliki materi uang berlimpah.

Namun kaya dalam hal kontekstual memiliki banyak makna.

Kaya ilmu maka orang ini memiliki ilmu yang banyak. Banyak hal definisi dalam kata ‘kaya’ itu sendiri.

Kaya yang dimaksud adalah kaya dengan cinta. Cinta dalam arti memiliki untuk disentuh dan dipeluk ketika diri ini merasa dingin dan sendiri.

Kaya dalam hal ini adalah menampik bahwa materi tidak cukup untuk menjabarkan sebuah arti ‘kaya’ yang mutlak.

Karena apa ? Ketika kita meniliki materi yang berlimpah bamun masih sendiri apakah kita mampu untuk tidur memeluk duit kita atau mungkin emas kita ? Tentu jawabannya tidak.

Ketika ada seseorang di sebelah kita saat malam hari yang mampu untuk dipeluk dengan penuh kasih sayang inilah yang dimaksud.

Kaya karena tidak sendiri, kaya karrna memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Jadi kata kunci kaya ada pada kata ‘memiliki’ maka percayalah sesungguhnya orang yang dikatakan kaya adalah orang yang memiliki sesuatu hal dan tidak dimiliki orang lain malah jika bisa kita banggakan kepada orang lain.

Inilah arti kaya seaungguhnya. Maka segeralah untuk menikah jika anda ingin diri anda segera kaya. Karena sesungguhnya memiliki kekayaan yang telah dimiliki orang lain belum bisa dibilang kaya.

Memiliki seorang pasangan hidup adalah syarat utama untuk jadi kaya, karena pasangan sudah pasti tidak akan dimiliki orang lain.


#JustForJoke
#PadahalJugaMasihJomblo
#PengenCepatKaya
#LagiCariPasangan
#RioSokGanteng
#UdahCukupLahNgawurnya
#KebanyakanHastag

Silahkan dibaca tulisan dari saya. Sapa tau dapat membuka perspektif kalian mengenai perubahan kota #Balikpapan dari sudut pandang saya di www.jurnalbalikpapan.com

Silahkan dibaca tulisan dari saya. Sapa tau dapat membuka perspektif kalian mengenai perubahan kota #Balikpapan dari sudut pandang saya di www.jurnalbalikpapan.com

Ultimately, Edge of Tomorrow is not the story of how soldiers fought tirelessly to eradicate an invading alien race, but a story of Hollywood still caught in an endless loop of gendered habit. Studios create female characters, mess them up, and try again.

The question is: How many more tries until the studios figure it out, and cinema moves forward?

Badass characters like Edge of Tomorrow's Vrataski seem to push Hollywood forward — but when will a woman be more than a “Female Yoda”?
(via theweekmagazine)

Life goes wrong when you turn the world into the junk

Tanpa Jeda Demi Sebuah Kebebasan

Tanpa ada koma tulisan ini bagaikan menari mengikuti setiap bunyi dari ujung jariku yang beradu dengan kerasnya keyboard.

Mengalir lembut menyayat keheningan malam bagaikan memiliki detak jantung dalam setiap katanya

Mata ini perih beradu pandang dengan lampu monitor dalam kegelapan ruangan pekat ini.

Namun seperti serdadu perang yang ingin terus maju memperjuangkan haknya demi kemerdekaan yang hakiki bagi seluruh orang yang bergantung nasib.

Aku memacu diriku hingga lelah menjadi sebuah kata yang harus ku acuhkan dalam setiap jengkal otak ku.

Tanpa koma tanpa batas merubah segala persepsi yang harus kuciptakan dalam setiap bait yang kuciptakan.

Mudah mengatakan bagi kalian yang melihat diri ini tidak menghasilkan apa-apa.
 
Namun aku percaya ketika sepuluh tahun yang akan datang aku menciptakan diriku bukan sebagai orang yang tukang cerita namun orang yang mampu meberikan inspirasi kepada sesama.

Sebuah penganugerahaan yang hakiki dari diriku kepada diriku dan tentu saja atas izin Yang Maha Esa dalam setiap hembusan nafas kehidupan yang diberikanNya untukku.

Doa atas pengharapan akan menjadi ujung tombak dalam setiap langkah yang akan kuambil.

Dalam pijakanku kuyakini bahwa hidup bukan hanya untuk dinikmati tapi untuk memberi kepada orang yang berhak untuk mendapatkan kehidupan tersebut.

Seorang pakar bisnis pernah menyebutkan bahwa “Lakukan apa yang kamu cintai maka kamu akan meraih kesuksesan”

Aku yakin kesuksesan yang kuhasilkan nantinya bukan tentang materi namun tentang bagaimana aku hidup saat ini.

Mencintai untuk menginspirasi orang lain dengan setiap huruf yang kurangkai menjadi sebuah makna.

B/W 
taken photo by @akhbarbima

B/W
taken photo by @akhbarbima